Segumpal Hening

“Hai..”

Itu satu patah kata yang akhirnya keluar dari mulut lelaki itu. kata yang sepertinya sedari tadi berputar-putar di lidahnya dan sulit dikeluarkan, kata sebesar percikan api yang menjilat oksigen dalam tungku bara tapi rasanya tetap saja panas meski hanya sepercik atau segumpal mungkin.

Cappucino di hadapan lelaki itu hanya mendingin dan bahkan belum diaduk, menyilangkan tangan menunggu untuk diminum. Dia iri dengan latte di depannya yang sedaritadi berdansa mengikuti irama sendok, tetapi nasibnya tak jauh berbeda, meraka berdua menunggu cumbuan hangat dari orang yang memesan mereka, mereka butuh tatapan sendu pemesan mereka. Mereka bosan. Mereka muak.

Suasana di luar menambah sendu suasana di dalam. Hujan. Air mata langit yang mengingatkan kita kepada memori yang kita simpan dalam perahu kertas dan mengalirkannya dalam arus waktu namun dibawa kembali oleh hujan. Tetes sendu yang mengingatkan lelaki yang berbicara “hai” dan gadis yang terus mengaduk lattenya akan gelak tawa dan cumbuan yang diakhiri dengan isak tangis mereka. Mereka larut dalam suara hujan. Mereka larut dalam sendu hujan. Hening.

Lama keheningan kembali menampar wajah mereka. Bukan karena mereka tidak mau berbicara tetapi mereka tidak bisa, terlalu berat rasanya. Bahkan “hai” pun tidak cukup. Hati mereka sudah berserakan namun mereka berdua masih memegang hati serta impian mereka berdua dengan erat. Meraka sudah lama tidak bertemu, sudah terlalu lama setelah perpisahan itu.

“Maaf aku tidak bisa.” Kata perempuan itu akhirnya terisak sambil menunjukkan cincin emas di jari manisnya.